ASI Tak Sebabkan Alergi pada Bayi

Ketika bayi alergi saat menyusui, jangan hentikan pemberian ASi karena alergi tidak disebabkan oleh ASI. (istock)

Ketika bayi alergi saat menyusui, jangan hentikan pemberian ASi karena alergi tidak disebabkan oleh ASI. (istock)

VIVAlife - Jika alergi muncul saat bayi masih menyusui, sebenarnya ibu tak perlu khawatir dan menghentikan pemberian ASI. Sebab, ASI bukanlah penyebab alergi pada anak.

Menurut ahli alergi dan imunologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Zakiudin Munasir, Sp. A (K) bayi yang alergi ketika baru menerima ASI biasanya disebabkan karena faktor-faktor lain. Setidaknya ada tiga jenis alergi yang bisa terjadi pada bayi, yakni:

Atopic Dermatitis

Atopic dermatitis dikenal dengan eksim yaitu kondisi medis yang ditandai dengan kulit yang kemerahan, kering, radang dan gatal (biasanya pada siku dan lutut).

Rhinitis alergi

Gejala utama alergi rhinitis dapat terlihat pada hidung dan mata. Pada hidung, biasanya memiliki kemiripan dengan flu seperti mengeluarkan ingus, napas tersumbat, bersin-bersin dan gatal. Selain itu mata kemerahan serta telinga membengkak.

Asma

Zakiudin mengatakan, asma biasanya dipengaruhi oleh lingkungan kotor seperti polusi dan udara lembap. Pada usia dini, asma dialami oleh 7 dari 10 anak.

Perlu diketahui, menurut Zakiudin biasanya ketiga jenis alergi ini terjadi  akibat susu sapi yang dikonsumsi ibu, atau susu pengganti ASI saat tersumbat.

“4 dari 10 bayi alergi akan asma dan rhinitis. Jadi jaga kontak makanan. Bila ASI tidak keluar, jangan langsung diberi susu sapi. Karena pencernaan bayi belum sempurna sehingga bayi harus perlahan minum susu yang diproses khusus dan dipisahkan proteinnya atau disebut susu hidrolisis. Karena setidaknya ada 20 protein dalam susu sapi yang bisa merangsang terjadinya alergi,” ujarnya. (eh)

Posted by admin @ BelajarBlogger.Info - April 17, 2014 at 5:59 am

Categories: Kosmo   Tags: , , ,

Miliki Ekor, Anak Ini Dianggap Dewa

Amar Singh, Bocah Berekor yang Dianggap Dewa (Mirror)

Amar Singh, Bocah Berekor yang Dianggap Dewa (Mirror)

VIVAlife - Seorang anak laki-laki berusia enam tahun tumbuh dengan sebuah ekor di bagian bawah punggungnya. Hal ini kemudian membuatnya dipuja seperti figur seorang dewa di desa tempat ia tinggal.

Anak bernama Amar Singh tersebut merupakan warga negara India yang tinggal di Njimapur, Uttar Pradesh, India Utara. Ekor unik di tubuhnya terdiri dari rambut tebal bewarna hitam yang saat ini telah tumbuh sepanjang 12 inci.

Orang-orang di desa itu pun menghubung-hubungkannya dengan dewa berwujud seekor monyet putih dalam kepercayaan agama Hindu yakni Hanoman.

Keluarganya mengklaim bahwa anak laki-laki ini lahir dengan ekor yang kala itu hanya sepanjang satu inci. Tahun demi tahun berlalu dan ekor di tubuh sang anak kian memanjang. Keluarga pun mengaku tak pernah memotongnya.

“Anak saya adalah anak yang sangat baik hati. Dia juga sehat dan normal juga giat belajar seperti anak-anak lainnya,” ujar sang Ayah, Ajmer Singh, dilansir Mirror.

Menurutnya, alasan keluarga tidak memotong ekor sang anak adalah karena rambut ekor itu dianggap sebagai hadiah dari Tuhan.

Amar, anak paling muda yang memiliki empat orang saudara perempuan dan satu orang saudara laki-laki itu juga terlihat menikmati hidupnya di desa. Setiap hari ia banyak menghabiskan waktu bermain dengan anak-anak sebayanya juga sapi-sapi ternak.

Warga desa lainnya juga banyak yang mengemukakan teori bahwa kondisi Amar mirip dengan kondisi sapi yang merupakan hewan yang dianggap suci dalam budaya Hindu. (eh)

Posted by admin @ BelajarBlogger.Info -  at 3:00 am

Categories: Kosmo   Tags: , , , ,

Ibu, Hindarkan Anak dari 4 Makanan Ini

Ilustrasi anak mengonsumsi makanan. (iStock)

Ilustrasi anak mengonsumsi makanan. (iStock)

VIVAlife – Saat tingkah laku anak mendadak berubah, tidurnya gelisah atau muncul tanda kemerahan di kulitnya, bisa jadi itu gejala alergi. Penyebabnya bisa dari banyak hal, salah satunya makanan.

Apapun yang dikonsumsi, sekalipun itu bergizi, bisa “ditolak” tubuh. Padahal, anak membutuhkan cukup nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Salah satunya: protein yang terdapat dalam susu.

Sayangnya, nutrisi itu justru menjadi salah satu penyebab utama alergi pada anak.

Menurut dr Zakiudin Munasir, SpA(K), ketua divisi alergi imunologi bagian ilmu kesehatan anak FK UI, RSCM, alergi merupakan reaksi hipersensitifitas yang terjadi pada tubuh.

Untuk mencegahnya, orang tua harus waspada dan mengetahui apa saja yang memicu alergi. Dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu, 16 April 2014, Zaki mengungkapkan empat makanan yang sering menjadi penyebab alergi.

Susu

Alergi terhadap susu terjadi ketika tubuh tidak dapat memproduksi laktase enzim yang diperlukan untuk mencerna gula dalam susu. Sehingga produk-produk susu seperti yoghurt, keju, mentega putih, dan krim harus dihindari jika tubuh tidak memiliki toleransi terhadap laktosa.

Gandum

Gandum memiliki protein yang dapat menyebabkan bereaksinya sistem kekebalan tubuh. Beberapa orang memiliki reaksi terhadap pencernaan setiap kali protein gluten tertelan. Gejala yang ditimbulkan akibat alergi gandum adalah kram, mual, dan muntah-muntah.

Telur

Berbagai gejala dari alergi telur dapat timbul, seperti: merah pada kulit dan gatal-gatal, muntah, sampai saluran hidung meradang. Ini karena protein pada telur menyebabkan alergi.

Kacang

Anak-anak biasanya lebih alergi terhadap kacang. Gejala umum yang ditimbulkan seperti reaksi pada kulit dan pencernaan, juga gangguan pernafasan. (eh)

Posted by admin @ BelajarBlogger.Info - April 16, 2014 at 11:59 pm

Categories: Kosmo   Tags: , , ,

VIDEO: Aspal di Negara Ini Menyala di Malam Hari

Ilustrasi jalanan Belanda yang menyala dalam gelap. (YouTube)

Ilustrasi jalanan Belanda yang menyala dalam gelap. (YouTube)

VIVAlife – Belanda punya cara cerdas menyiasati tingginya konsumsi listrik untuk menerangi jalanan di malam hari. Di Negeri Kincir Angin, tiang-tiang lampu di tepi jalan sudah dianggap konvensional.

Metode penerangan baru diterapkan di sekujur jalan raya. Aspalnya sengaja dibuat menyala, seperti ada stiker dengan teknologi glow in the dark yang tertempel di sepanjang marka jalan.

Pembangunan jalan raya itu memakan waktu bertahun-tahun. Saat akhirnya diperkenalkan ke publik, masyarakat menyambutnya antusias. Mereka merasa seperti berkendara di negeri dongeng.

Teknologi itu dirancang tim desainer yang dipimpin Daan Roosegaard. Ia menerapkan kombinasi cat dan bubuk cahaya. Hasilnya, saat gelap tiba, jalan memancarkan cahaya hijau selama delapan jam.

Mengutip Fox News, minggu ini penerapan pertama dilakukan pada jalan raya yang terletak 60 kilometer dari Amsterdam. Itu baru periode pengujian. Peluncuran resmi dilakukan beberapa minggu mendatang.

Rencananya, Roosegaarde akan melakukan terobosan lebih hebat. Jalanan juga akan dilengkapi sistem yang sensitif terhadap suhu.

Jika temperatur udara kurang bersahabat, ada peringatan berupa butir-butir salju raksasa yang muncul di permukaan jalan. Dengan begitu, pengendara bisa berhati-hati terhadap perubahan suhu.

Karya Roosegaarde itu, terinspirasi atas isu penggunaan energi berlebihan yang melanda dunia. Dengan mematikan lampu di jalan, pemerintah Belanda juga akan menghemat uang. (eh)

Posted by admin @ BelajarBlogger.Info -  at 8:59 pm

Categories: Kosmo   Tags: , , , , ,

Dokter: Alergi Susu Sapi Terjadi Secara Genetik

Ilustrasi susu sapi. (REUTERS/Marcelo Del Pozo)

Ilustrasi susu sapi. (REUTERS/Marcelo Del Pozo)

VIVAlife – Protein memang baik untuk tumbuh kembang anak. Namun, kandungan itu dalam susu sapi juga umum menyebabkan alergi. Penyebab lazimnya adalah reaksi imunologis.

Bukan hanya terhadap susu sapi, anak juga akan alergi pada semua bentuk turunannya, seperti yogurt, keju, mentega putih, dan krim.

Gejala alergi baru terlihat saat anak berusia 6 bulan. Itu pun hanya muncul di bagian tubuh tertentu, misalnya kulit. Pada anak yang alergi, umumnya ditemukan bengkak dan gatal di bibir sampai lidah.

Masalah lain, menurut dr Zakiudin Munasir, Ketua Divisi Alergi Imunologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI, RSCM juga adalah nyeri sampai kejang di perut. Alergi juga mengganggu saluran napas.

“Gejala yang paling sering muncul pada anak yang memiliki alergi susu sapi adalah masalah saluran cerna, mulai dari muntah, kolik, diare, darah dalam fases, serta masalah pada kulit,” lanjutnya.

Lantas, apa sebenarnya penyebab anak alergi susu sapi? Zaki menjelaskan, pemicu alergi adalah sistem imun anak. Sistem itu menganggap kandungan protein pada susu sapi adalah zat berbahaya.

Sehingga, sistem kekebalan tubuh anak akan melawan protein yang terdapat di dalamnya. Menariknya, alergi susu sapi cenderung terjadi secara genetik.

“Alergi ini umumnya mengenai anak yang memiliki bakat alergi yang disebut autopik. Bakat itu diturunkan secara genetik oleh salah satu atau kedua orang tuanya,” ujar Zaki di Jakarta, Rabu, 16 April 2014.

Jika orang tua memiliki alergi terhadap suatu makanan termasuk susu sapi, kata Zaki, maka 50 persen kemungkinan anak memiliki alergi yang sama. (eh)

Posted by admin @ BelajarBlogger.Info -  at 5:59 pm

Categories: Kosmo   Tags: , , , , , ,

Next Page »