Subhanallah,Di Makassar Ada Masjid Terapung Pertama di Dunia
Masjid 99 Al Makazzary merupakan masjid terapung pertama di Indonesia yang terletak di Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan. Masjid yang melambangkan Asmaul Husna baru didirikan dari dana sumbangan dermawan yang mampu menampung 500 jemaah. Masjid ini menjadi simbol kebanggaan masyarakat Makassar yang melambangkan makna keislaman, kebesaran dan kebanggaan.
Asmaul Husna melambangkan angka 99 dan Al Makazzary melambangkan salah seorang imam besar Masjidil Haram Syekh Yusuf. Dengan nama 99 Al Makazzary, masjid dengan biaya Rp 6 miliar bisa didirikan dan dana yang terkumpul hingga kini baru Rp 2 miliar. Keunikan Masjid 99 Al Makazzary berlantai 3 berdiameter 45 meter ini terletak di timur laut Pantai Losari yang berhadapan dengan rumah jabatan Wali Kota Makassar di Jl Penghibur, terlihat dari atas membentuk angka 99.
Terdapat dua kubah berdiameter 9 meter yang dibawahnya pengunjung dapat menggunakan tempat bersantai dan beristirahat dengan embusan angin pantai. Masyarakat bisa naik ke atas kubah yang melalui dua tangga samping yang mengelilingi masjid. Bangunan dengan memadukan konsep modern, kontemporer dan islami, Masjid 99 Al Makazzary terlihat indah berdiri di atas permukaan laut.
Makanya, meski pembangunan masih berlangsung, masyarakat banyak berdatangan melihat keindahan masjid sambil menunggu tenggelamnya matahari (sunset) dengan menikmati makan an khas Makassar, Pisang Epek yang kemudian menjalankan shalat magrib berjamaah.
sumber
Artikel Terbaru Seputar Bola dan Prediksi Bola | www.lintasgol.com
Keunikan Masjid Bawah Tanah Tamansari Jogjakarta
Jogjakarta – Yogyakarta memang tempat dengan sejuta pesona. Di Taman Sari tidak hanya terdapat istana air saja, tetapi juga terdapat masjid bawah tanah. Masjid yang unik ini menyimpan banyak sejarah, bangunan yang unik dan kesyahduan.
Taman Sari merupakan salah satu destinasi unggulan Yogyakarta. Terletak tidak jauh dari Keraton dan pusat kota, tempat ini merupakan istana air yang digunakan sultan untuk beristirahat dan menyambut tamu. Selain itu, di dalam komplek Taman Sari juga terdapat masjid bawah tanah, masjid yang unik dan menarik.
Setelah memasuki komplek Taman Sari, langkahkan kaki Anda untuk lebih masuk ke dalamnya. Anda akan melewati rumah-rumah penduduk dan melihat beragam aktivitas masyarakatnya saat menuju masjid bawah tanah tersebut.
Cukup berjalan 5 menit saja, Anda akan tiba di pintu masuk yang mengarah ke bawah tanah.
![]()
Sesuai dengan namanya, masjid ini berada di bawah tanah, Anda harus melewati puluhan anak tangga dan melewati lorong-lorong di dalamnya.
Siapkan kamera Anda, karena lorong-lorong tersebut dapat menjadi objek foto yang cantik. Untuk masuk ke dalamn masjidnya, Anda diharuskan membayar sumbangan sukarela saja.
![]()
Masjid ini memiliki bentuk bangunan yang berbeda pada masjid-masjid pada umumnya, yaitu berbentuk melingkar dan memiliki dua lantai. Lantai bawah digunakan untuk pria dan lantai atas digunakan oleh wanita untuk beribadah.
Di setiap lantainya pun terdapat lubang-lubang sebagai tempat berdirinya imam, pemimpin salat.
![]()
Di tengah-tengah bangunannya terdapat tangga untuk naik ke lantai atasnya. Tangga tersebut berjumlah lima, yang mengartikan jumlah waktu salat umat Islam. Di bawah tangganya terdapat kolam yang dulu digunakan untuk berwudu sebelum salat,kini kolam tersebut tidak lagi terisi air.
![]()
Bentuk bangunannya yang melingkar, menjadikan suara Anda akan bergema di dalam masjidnya. Hal ini pun merupakan teknologi yang digunakan oleh masyarakat pada zaman dulu. Jadi, tidak perlu pengeras suara, suara imam akan terdengar oleh semua jemaah.
Masjid bawah tanah di Taman Sari menyimpan keunikan tersendiri. Selain bangunannya, letaknya yang di bawah tanah membuat masjid ini jauh dari keramaian dan lalu-lalang orang-orang. Masjid bawah tanah ini menjadi tempat yang penuh kesyahduan.
sumber
Artikel Terbaru Seputar Bola dan Prediksi Bola | www.lintasgol.com
Masjid Ajaib di Malang
Bangunan sebelum jadi
Betul, orang-orang bilang bahwa ini memang masjid ajaib. Dalam radius puluhan kilometer jika Anda bertanya kemana arah “masjid ajaib” orang-orang akan menunjukkan arah yang tepat. Yaitu masjid yang tidak diketahui dibangun oleh siapa, berapa banyak orang yang mengerjakannya termasuk tukang dan kulinya serta seberapa material semen, pasir dan lain-lain. Singkat kata, masjid itu nongol begitu saja dan terus “bertumbuh” sampai dengan sekarang dan selalu terlihat sebagai “bangunan belum jadi” tapi tidak terlihat tumpukan material dan lalu-lalang pekerja.
Namun, ketika desas-desus ini dikonfirmasi kepada “orang dalam”, dikatakan bahwa pembangunan masjid – yang sebenarnya merupakan kompleks pondok pesantren secara keseluruhan – semua bersifat transparan karena dikerjakan oleh santri dan jamaah.

Kompleks pondok terlihat dari jalan raya.
Bantahan dari “orang dalam” itu jelas sekali terpampang di depan meja penerima tamu dengan tulisan besar-besar, “Apabila ada orang yang mengatakan bahwa ini adalah pondok tiban (pondok muncul dengan sendirinya), dibangun oleh jin dsb., itu tidak benar. Karena bangunan ini adalah Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah yang murni dibangun oleh para santri dan jamaah.”


Kebun sayuran ini terletak di ketinggian lantai 8
Terlepas dari ajaib atau tidaknya proses pembangunan pondok bertingkat 10 itu, yang jelas dari segi arsitektur menunjukkan cita rasa arsitektural tingkat tinggi yang mungkin dalam proses pembangunannya jelas memerlukan dana yang tidak sedikit. Sebuah proyek akbar yang tentunya melibatkan banyak pihak. Namun kenapa sampai banyak orang tidak tahu dan terkesan “ajaib”? Wallahu ‘alam…
Benarkah Kubah Masjid Tiru Gereja?
Tahukah Anda kalau masjid beratap kubah yang marak di Indonesia ini ternyata bukanlah hasil seni asli umat Islam. Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, Ali Mustafa Yakub, masjid beratap kubah itu mengadopsi bentuk kubah dari gereja Aya Sofya di Istanbul, Turki.
”Masjid itu tidak ada aturan bentuknya. Lapangan saja bisa jadi masjid,” kata guru besar Hadis Institut Ilmu-Ilmu al Qur’an (IIQ) Jakarta ini saat berbicara pada seminar Seni: Antara Tuntutan Masyarakat dan Tuntunan Syariat di Jakarta, Rabu (14/3).
Masjid beratap kubah ini, kata Ali, tidak ditemukan di wilayah Maroko. Hal ini berkaitan karena di wilayah tersebut pengaruh kekhalifahan Turki Utsmani tidak masuk ke wilayah tersebut.
Saat ini, Ali melihat, tren masjid beratap kubah di Indonesia tak lepas pula dari pengaruh Turki Ustmani. Padahal, menurut dia, ketika Islam kali pertama dikenalkan oleh wali songo, atap-atap masjidnya mengadopsi budaya lokal Jawa. Ia menyebutkan contohnya Masjid Agung di Demak dan Kudus.
”Ini artinya Islam itu selalu hadir beradaptasi dengan budaya setempat, bukannya menjauh,” ujarnya.
sumber
[HOTT] Ada Masjid dijual gan (dunia udah gila)
Astagfirullah….langsung aja ni gan….


sumber







