[Share] Akhirnya Ane Percaya Ternyata Polisi Ada yang Baik Juga
Pada hari yang telah di tentukan dengan rasa ingin tahu yang besar ane datang ke tempat sidang, baru masuk parkir langsung di tanya “mana bukti tilangnya ? yang diambil STNK atau SIM ?” dengan senyum dikulum ane langsung jawab “Maaf Pak, saya sudah janjian di dalam”
Setelah menaruh bukti tilang di lantai basement gedung pengadilan, antri di panggil di ruang sidang yang penuh sesak para tersangka pelanggar lalu lintas. Kemudian ketika nama ane di panggil petugas hanya memberitahukan bahwa ane harus kembali kepada polisi yang menilang ane.
ane tanya kenapa ?
Apa dosa ane?

ane hanya tidak menyalakan lampu di siang hari dan ane datang sesuai dengan instruksi dari polisi yang menilang ane.
Kemana ane harus mencari polisi yang menilang ane?
Kenapa yang lain di sidang,ane tidak ?
ane benar benar bingung kenapa ? dan tidak ada jawaban yang memuaskan dari petugas, yang ada ane dilempar kesana-kemari, disuruh ke daan mogot, ke kejaksaan, ke polisi yang menilang, minta tolong petugas di basement, akhirnya ane memutuskan untuk pulang dan teringat saran seorang sahabat “Bro.. ngga usah dateng ke pengadilan biar di urus pak Agung, dia kan polisi, biasa juga kalau ditilang dia yang ambil kok”, tadinya saran ini ane abaikan karena saya ingin mengikuti prosedur.
ane baca kembali surat tilang ane dan tampak petugas pengadilan memberi lingkaran pada tanggal sidang yang tidak di isi petugas polisi.
Dalam perjalanan pulang ane bertemu dengan polisi yang menilang ane, ane berhenti dan bertanya
ane: ” Pak, bapak masih ingat saya yang bapak tilang tanggal 16 April 2012. ane hari ini sidang,ane sudah datang dan berkas ane tidak ada, katanya saya harus balik ke bapak ?”
Polisi : ” Saya cek dulu ya pak.” (Cek ke rekan kerjanya apakah berkas sudah dikirim), “bapak silakan ambil simnya di daan mogot karena berkas bapak ada di sana, nanti ibapak bayar denda disana”

ane :”Kenapa berkas saya disana pak ? Bapak kemarin suruh saya datang sidang, saya ngga mau ke daan mogot pak, saya mau di sidang, saya ngga tahu daan mogot dimana !”
Polisi : memanggil sesorang dan meminta orang tersebut mengantar saya ” Silakan bapak ke daan mogot dengan diantar bapak ini”
ane tidak mau dan ane ambil bukti tilang ane.
Diseberang jalan saya lihat segerombolan polisi, saya hampiri mereka, saya pidato singkat sbb :
“Selamat siang bapak bapak , beberapa minggu yang lalu saya di tilang karena tidak menyalakan lampu di siang hari, saya terima. Saya di minta datang sidang, saya datang. Tapi sekarang berkas saya tidak ada dipengadilan dan saya harus mengambil di Daan Mogot karena anggota bapak tidak menuliskan tanggal sidang di surat tilang, saya bertanya kepada Bapak, dimana hati nurani bapak – bapak ?” (Pidato yang penuh perasaan dan isak tangis)
Seorang polisi yang baik hati menawarkan mengantar ke Daan Mogot tapi setelah sholat Jum’at.
Polisi lain menyarankan ane ke polisi yang menilang.
Seorang polisi (mungkin atasan/komandan) meminta polisi yang menilang ane untuk mengambil sim saya di Daan Mogot.
Setelah menunggu beberapa saat Polisi yang menilang sane datang dan memberikan sim ane. Saya tanya berapa denda yang harus saya bayar, di jawab TIDAK USAH.
Akhirnya ane percaya, ternyata ada juga Polisi yang baik gan
sumber
10 Pengobatan yang Tidak Umum Dilakukan Yang di Percaya Menyembuhkan
1.Tembaga

Selama berabad-abad, tembaga telah dipercaya dapat mengobati sakit apapun dari sakit hati sampai rematik. Bahkan, gelang tembaga sekarang biasa digunakan untuk mencegah encok.
2. Vodka

Berdasarkan ‘The Big Doctors Book of Home Remedies’, mengoleskan vodka pada kaki dapat menjaga kaki dari bau tidak sedap.
3.Yogurt

Dengan memakan yogurt, Anda dapat menghilangkan bau mulut karena bakteri yang terdapat di dalam yogurt mampu menghilangkan bau tidak sedap pada mulut.
4.Akar manis

Percaya atau tidak, sebuah studi telah menemukan bahwa liquorice atau akar manis dapat menyembuhkan kapalan karena terdapat sejenis estrogen yang dapat melembutkan kulit.
5.Minyak zaitun

Peneliti sudah menyatakan bahwa minyak zaitun dapat membersihkan eksim pada kulit. minyak tersebut mengandung anti oksidan dan pelembab.
6.Satu sendok teh gula

Kita tahu bahwa berdiri dengan kepala di bawah atau meminum air dapat menghilangkan cegukan. Selain itu, ternyata satu sendok teh gula dapat menghentikannya hanya dalam beberapa menit.
7. Plester

Jika Anda memiliki masalah kulit seperti kutil segera gunakan plester karena telah banyak orang yang memberitahukan plester dapat menghilangkannya.
8. Balsem lemon
Balsem Lemon yang berasal dari Eropa Selatan dan Afrika Utara dapat menghilangkan bekas luka. Didihkan, dinginkan, lalu gunakan pada luka beberapa kali.
9.Lemon
10. Darah Kambing
Categories: Unik Tags: dilakukan, Menyembuhkan, Pengobatan, Percaya, Tidak, Umum, yang
Percaya Gak !! Pocongan Itu Keluar Dari Kuburan Baru
Semasa hidupnya pak Karto dikenal sebagai dukun yang cukup kesohor di desanya. Segala permasalahan hidup bisa di atasi dengan keahliannya dalam dunia supranatural itu. Tapi yang paling terkenal dia dapat julukan sebagai dukun santet. Banyak kliennya yang merasa puas dengan keahliannya itu. Konon sudah banyak orang yang berhasil ia santet hingga tewas sesuai permintaan pasiennya, para tetangga tidak bisa membuktikkan.
klaimnya itu, yang jelas pasiennya tidak pernah sepi berkunjung ke rumahnya yang cukup mewah itu.
Usia pak Karto 80 tahun, tapi ia masih nampak gagah bila berjalan setiap pagi untuk melihat-lihat sawahnya yang cukup banyak itu. Mendadak saja di suatu pagi ada pengumuman lewat pengeras suara dari Masjid Al-Karim yang memberitakan bahwa pak Karto meninggal. Isyu pun berkembang bahwa pak Karto mati kena santet lawannya, tapi ada yang mengatakan bahwa pak Karto mati dengan wajar, bahkan terkesan begitu damai tak ada tanda-tanda kena guna-guna. Hari itu juga acara pemakaman dilaksanakan.
Makam di ujung desa yang sunyi menjadi tempat peristirahatan sang dukun santet itu. Banyak tumbuh pohon kamboja di pekuburan yang dikelilingi tembok setinggi satu setengah meter itu. Sementara di belakang kuburan terdapat sungai yang cukup deras airnya mengalir dan pepohonan bambu berjajar di sepanjang tepian.
Kuburan pak Karto tepat di bawah pohon Ketepeng yang cukup besar, dan itu pohon terbesar yang berada di kuburan tersebut. Saya ikut melayat bersama Petrus yang tetanggaan dengan pak Karto itu, karena kebetulan saya pas mampir ke rumahnya dan diajak sekalian melayat
“Kamu nanti malam ada acara tidak?” tanya Petrus di sela acara doa kubur itu.
“Tidak kemana-mana, paling di depan kompi buat baca-baca.” jawab saya pelan. “Memangnya ada apa?” tanya saya selanjutnya.
“Ssst nanti malam kamu menemani saya naik ke atas pohon itu.”
“Gila! Untuk apa?”
“Kita lihat saja nanti! Mau kan, asyik buat bahan menulis.”
Wah, peristiwa apa yang akan terjadi nanti? Hanya penasaran.com yang berada di kepalaku dan itu membuatku menyetujui niat baiknya itu. Niat baik? Bah! Niat nggak karuan deh, tapi aku ingin tahu, itu yang membuatku deg-degan dan di pemakaman dan mendadak bulu kudukku meremang.
Jam 21.00 Petrus menelponku.
“Jadi nggak?”
“Lhah kamu jadi nggak?”
“Lhoh aku menunggumu!”
“Oke, saya berangkat sekarang!”
Saya pun segera mengeluarkan motor, mengenakan jaket kulit dan secepatnya memacu kendaraan ke rumah Petrus. Rumahnya masuk wilayah Sukoharjo yang cukup sunyi, walau sudah ada penerangan jalan. Tapi karena tadi ada hujan, suasana tampak semakin sepi, mungkin banyak yang lebih suka berada di rumah daripada keluar. Menuju rumah Petrus kalau malam begini terasa mencekam, mengingat ada suasana duka di desa tersebut.
“Masukkan saja motornya!” kata Petrus menyambutku.
“Wah tadi di sini hujannya deras banget ya?”
“Lumayan deras, tapi justru itu menguntungkan bagi kita.”
“Untungnya apa?”
“Nggak ada orang yang keluar buat ronda, kalo begini pada males.”
“Mau berangkat jam berapa?”
“Jam 23.00 saja, kita ngopi dulu saja. Sudah makan belum?” saya mengangguk.
Jam yang ditunggu pun tiba, Petrus mengenakan kopiah warna hitam, sementara saya juga sudah mempersiapkan dengan kopiah, maksudnya biar bisa untuk menutupi muka dan untuk mengurangi terpaan angin juga terhindar dari dengingan nyamuk.
“Kamu lepas saja sepatumu!”
“Lho memangnya kenapa? Kotor nggak masalah!” jawabku heran.
“Bukan masalah kotornya, kita NYEKER saja, soalnya nanti kita naik ke atas pohon Ketepeng biar tidak licin.” jawab Petrus sambil membawa tali plastik ukuran 10 mm warna hijau.
“Untuk apa?” tanyaku heran.
“Biar nggak jatuh!”
Akhirnya dengan berjalan kaki serta memintas jalan yang sepi, kami tiba di kuburan itu. Tidak begitu gelap, karena di pintu masuknya ada penerangan lampu bohlam 25 watt. Petrus yang jalan di depan langsung masuk tanpa permisi, menuju pohon besar itu. Ia sangat cekatan naik sampai atas, kurang lebih tinggi batangnya dari permukaan tanah 3 meteran.
“Ayo kamu naik, ikatkan tali ini biar aku bisa memegangimu!” katanya setengah berbisik. Dengan segera kuikatkan tali ke pinggangku, aku pun segera naik dengan susah payah. Nafasku ngos-ngosan. “Cepat ikatkan tali ini ke dahan biar nggak jatuh!” ujar Petrus lagi. Saya pun mengikatkan tali itu ke dahan yang sebelah atas. Ada dua dahan yang cukup besar di mana kami masing-masing berada. Saya liha Petrus memeluk dahan itu sambil memperhatikan suasana di bawah, saya pun melakukan hal yang sama.
Tepat di bawah tampak kuburan pak Karto masih segar dengan tumpukan bunga tujuh rupa, hawanya begitu khas. Ada juga tunas dari pohon pisang tergeletak bersama bunga-bunga itu. Batu nisan dari kayu menancap di dua ujung kuburan itu. Tiba-tiba terdengar lolongan anjing dari kejauhan, begitu menyayat dan mengerikan. Bulu kudukku merinding, kulirik si Petrus diam lekat memperhatikan situasi di bawahnya.
Tiba-tiba ada desau angin yang begitu kuat di sekitar kuburan ini, menerbangkan dedaunan dan pohon-pohon bambu bergesek menimbulkan suara yang cukup mencekam. Gemericik air sungai menambah seramnya malam ini. Sepertinya angin kencang itu berkumpul di atas kuburan sang dukun, bunga-bunga berterbangan tak tentu arah, bahkan ada yang ke atas menerpa kami berdua.
Lolongan anjing semakin sering, mendadak batu nisan itu bergerak seperti ada yang mendorong dari bawah. Mataku tercekat, semakin kuat tanganku memeluk dahan agar tak terjatuh, nafasku pun seperti tertahan, mataku tak berkedip akan apa yang kulihat ini.
Nisan itu bergerak miring ke kiri miring ke kanan. Tiba-tiba tanahnya terkuak. Lalu sebuah benda putih menjulur pelan-pelan, ternyata berbentuk kepala POCONG. Kepalanya yang sudah keluar itu memandang berkeliling seperti sedang mengintai sesuatu lewat keremangan malam. Sedikit demi sedikit mengulur-ulur tubuhnya hingga akhirnya keluar seluruhnya. Lalu Pocongan itu bergerak meloncat-loncat menuju ke arah sungai, ia meloncati tembok dan terjun ke dalam sungai. Kami berdua terus mengamati itu tanpa sehelai nafas pun keluar, saking tegangnya. Pocongan itu pun sudah tak kelihatan lagi, ia seperti ikut aliran air sungai itu, entah kemana?
“Trus…Petrus…..” bisik saya.
“Ssst, jangan berisik dulu, kita tunggu sebentar lagi.”
Dari detik ke menit hingga berjam-jam tak terasa kami masih berada di atas pohon. Pocongan itu sepertinya tidak kembali, sampai suara adzan Subuh bergema tak ada perkembangan selanjutnya. Petrus pun mengajak saya turun. Begitu sampai ke bawah kami semakin heran, kuburan sang dukun kembali utuh beserta bunga-bunganya, sepertin tak ada kejadian apa pun.Padahal kami berdua menyaksikan sendiri kuburan ini masih berlubang ketika sosok Pocong itu keluar. Apakah di dalamnya masih ada mayatnya? Entahlah!
“Malam jumat depan kita ke sini lagi!” ujar Petrus sambil menyalakan sebatang rokok dan keluar dari kuburan. Aku mengikutinya tanpa memberikan jawaban.
sumber
Percaya surga itu ada? Atau surga hanya konsep imajinatif belaka?
Ilustrasi
Berawal dari aktifitas insomnia antara alicya dan afrivia. alicya dan afrivia saling bertanya dan beradu lidah (jangan ngeres gan )
Pertanyaan pertama dari Via “Apa lo percaya surga, Alice?
Saya menjawab seenak jidat bahwa saya tidak peduli surga ada atau tidak walaupun dalam hati kecil saya, saya sangat berharap semoga surga tidak benar-benar ada.
“Trus kalo mati kemana donk?”
“Kemana kek, kemana aja bisa…Hehehe. Menurut gue sih klo gue mati ya sudah, kehidupan gue berakhir. Selesai. Kalo memang belum selesai, paling gue dilahirkan lagi, jadi kelinci, jadi bakul jamu, jadi presiden, gue sih pengennya jadi model. Difoto-foto doank dapat duit…”
“Kalo gue sih pengen terlahir dengan tubuh semampai” (hehe,ini kalimat karangan gue sendiri. Pardon, Via!)
Intinya kami sama-sama sepakat bahwa konsep surga yang sudah menjejali otak kami sejak kecil harus dipertanyakan lagi. Via lalu menceritakan konsep surga yang dia ketahui entah dari mana. Konon katanya, di surga manusia tidak perlu kerja keras. Semua yang diinginkan sudah tersedia. Mau makan apel tinggal petik dari pohonnya. Pohonnya tiba-tiba muncul di sebelah si penghuni surga. Wow! Ajaib!
Guru TPA saya waktu SD berceramah : Barangsiapa berbuat baik, kelak akan mendapat tempat di surga. Kalian akan ditemani oleh para bidadari. Waktu SMA, saya pernah baca tulisan di internet soal surga yang menguatkan pernyataan guru TPA saya bahwa ketika berada di surga, setiap laki-laki akan mendapatkan 7 ranjang dan seorang bidadari yang telah bersiap sedia di setiap ranjang. Nah, setiap bidadari itu punya 7 dayang-dayang. Jadi perhitungannya, setiap laki-laki yang masuk surga akan mendapatkan 49 perempuan. Dahsyat! Lalu saya yang berjenis kelamin perempuan ini dapat apa ? 49 bidadari juga? Lhah, buat apa ?Atau 49 bidadara ? Hmmm…Coba tanya Miyabi ? Pertanyaan utama: Apakah setiap orang yang masuk surga dikondisikan sebagai seorang maniak seks ?
Menurut gurunya Via, perempuan yang masuk surga akan diberi penghargaan yaitu tetap virgin selama-lamanya. Heh? Andai saja guru Via ada di depan saya sekarang, saya pasti protes. Apa hubungannya penghargaan dengan keperawanan ? Memangnya kalau perempuan ada di surga dalam kondisi sudah tidak virgin jadi suatu kesalahan ? Memangnya di surga kita masih memusingkan masalah virgin atau tidak virgin? Dikiranya perempuan senang apa jadi perawan selamanya ? Hayo..Siapa yang mau jadi perawan selamanya ? Terus terang, saya tidak.
Masih ada banyak mitos lainnya tentang kehidupan di surga. Entah kenapa, saya tidak pernah bisa percaya dan hanya menganggap semua itu sebagai mitos. Mitos yang kalah menarik dibandingkan Mahabarata dan Ramayana, Malin Kundang, Sangkuriang, Danau Toba, Fumiripits, Ande-Ande Lumut, Wiro Sableng sampai Si Buta dari Goa Hantu.
Begini saja, kalau di surga saya bisa makan apel yang pohonnya ada di samping saya, lalu apa serunya hidup saya. Saya hanya akan jadi seorang pemalas yang kerjaannya makan segala makanan di sekitar saya, tidak jalan-jalan, hidup saya membosankan, lagi pula tetap perawan. Rasanya hampa…Weleh-weleh…! Ampun Gusti, kulo nyuwun ngapuro…
Iming-iming surgawi itu tidak universal, seolah-olah diserukan hanya kepada golongan tertentu yaitu orang –orang yang semasa hidupnya tidak bisa merasa bahagia. Kalau orang yang selama hidup di dunia kerjanya banting tulang, makan sekali sehari, tidak punya pasangan cantik jelita, gambaran surga seperti itu mungkin sangat menggiurkan karena di surga mereka dijanjikan dapat makan sepuasnya, hidup berleha-leha sambil dikerubutin perempuan-perempuan cantik. Tapi bagaimana dengan mereka yang saat ini sudah punya banyak harta, tidak perlu kerja keras sudah bisa hidup enak karena memang sudah turunan kaya raya, plus punya banyak pacar yang cantik-cantik.?Apa yang bisa memotivasi mereka masuk surga ? Dan apa gunanya ketika mereka berada di surga kalau kehidupannya sama saja kecuali kalau orang kaya sudah pasti masuk neraka. Tapi siapa yang bisa menjamin orang kaya pasti masuk neraka dan orang miskin serta tertindas pasti masuk surga ?
Dalam pikiran saya surga adalah suatu konsep tentang tempat atau kondisi yang multi-interpretasi. Surga itu sama seperti agama, sifatnya personal. Kalau orang bebas memilih agama, harusnya setiap orang juga bebas memilih surganya. Kalau agama saja masih suka ditafsirkan secara berbeda-beda, rumusan tentang surga juga pastinya belum tentu pasti. Sementara, selama ini yang saya dengar , definisi surga cenderung diskriminatif dan konyol.
Maaf , saya tidak bermaksud memprovokasi siapapun untuk menentang surga. Toh, saya juga tidak mengatakan bahwa surga itu tidak ada. Ini hanya uneg-uneg yang lewat saat saya dan Via mengisi malam-malam insomnia kami.
Sebenarnya saya malas memikirkan surga ada atau tidak ada. Tapi siapa suruh saya diberi otak yang fungsinya untuk berpikir dan diberi hati nurani yang fungsinya merasa. Maka saya berpikir dan merasa bahwa surga yang orang-orang doktrinkan pada diri saya, saling tolak-menolak dalam diri saya. Hehe…
Tapi seperti yang saya katakan tadi, saya tetap percaya surga itu ada. Surga yang subjektif. Oh ya, setelah dipikir-pikir lagi, konsep surga umumnya mengandung komponen makna yang sama yaitu suatu tempat atau keadaan yang penuh dengan kenyamanan dan rasa senang. Coba periksa di kamus. Jadi apapun yang membuat saya merasa nyaman dan merasa senang saya anggap sebagai surga saya.
Obrolan saya dengan Via tentang surga tidak selesai dengan tuntas. Tanpa moderator, diskusi itu morat-marit. Jam 04.00 WIB, saya keluar dari kamar Via, kembali ke kamar saya sendiri. Tanpa kesimpulan. Saya biasanya tidak bisa langsung merem, rutinitas saya sebelum tidur adalah berimajinasi kalau bisa malah berfantasi Tiba-tiba saya ingat mama saya.
Mama saya juga sering memberi nasihat “Belajar yang rajin, nak, supaya pintar dan masuk surga. Karena belajar =jihad “. Dan saya yakin nasihat Mama benar! Meskipun awalnya susah saya pahami, bagaimana caranya belajar bisa membawa saya ke surga. Penemuan sehari-hari memberi saya jawaban. Saya suka melihat foto tempat-tempat indah di dunia di majalah National Geographic. Saya tahu tidak semua orang bisa pergi ke pedalaman Afrika atau pedalaman Papua dengan alamnya yang sangat indah, jauh dari bisingnya kehidupan manusia dan industri. Saya ingin menjadi salah satunya. Itu cita-cita dari kecil.
Sekarang saya mengerti kenapa Mama ngotot dan ngoyo dalam urusan memberi pendidikan bagi saya (sementara saya sering khilaf dan bolos kuliah), karena dia ingin saya pintar. Kalau pintar saya bisa mewujudkan mimpi saya. Kalau pintar saya bisa menggapai cita-cita saya. Dan mimpi itu sama dengan cita-cita. Dan mimpi serta cita-cita itu sama dengan surga bagi setiap orang, karena bisa memberi rasa senang dan menambah rasa percaya diri sehingga kita nyaman dengan diri sendiri.
Kalau sudah begitu surga bisa diniali berbeda bagi setiap orang. Kalau mimpi seseorang adalah menjadi penyair handal. Maka surganya adalah puisi-puisi terbaiknya. Kalau seseorang bermimpi jadi musisi, surganya adalah musiknya. Kalau seseorang bermimpi jadi guru, surganya adalah rasa puas saat berhasil mendidik murid-muridnya. Kalau seseorang bermimpi hidup tenang, surganya adalah ketika masih bisa bersyukur atas apa yang dimiliki dan punya banyak teman yang tulus.
Jadi, surga itu sesuatu yang bisa diciptakan. Tidak perlu menunggu sampai mati dan bahkan itu juga belum tentu pasti. Mulai sekarang, ayo berjuang ke surga kita masing-masing. Bukan surga yang menggombal dengan janji lagi pula diskriminatif terhadap gender. Selamat berjuang! Bon Courage!
Kumpulan artikel dewasa >>>>> 17plus
sumber
Percaya atau Tidak Virus Komputer Dapat Menyerang Manusia
Virus komputer menyerang manusia? Percaya atau tidak?, Kalau dilihat dari apa yang selama ii kita yakini tentang virus komputer rasanya sangat tidak masuk akal! mungkin mustahil karena keduanya beda sekali secara fisik. Virus komputer hanyalah kode-kode digital buatan manusia, sementara virus penyakit bersifat organik.
Namun, serangan virus komputer ke tubuh manusia mungkin saja terjadi saat perangkat berbasis komputer menyatu dengan tubuh manusia. Misalnya, virus menyerang lengan robotik, jantung buatan, atau organ implan yang sengaja ditanam ke dalam tubuh untuk berbagai keperluan di masa depan.
Untuk mengantisipasi serangan semacam itu, Dr Mark Gasson, seorang pakar cybernetika di University of Reading, Inggris, pun melakukan uji coba. Ia membuat virus komputer dan menginfeksinya ke dalam cip radio frequency of identification (RFID) yang ditanam di bawah permukaan kulit lengannya. Percobaan ini dirancang untuk mendemonstrasikan model penyebaran virus terhadap peralatan implan yang dipakai manusia. Peralatan berbasis RFID yang ditanam ke tubuh Gasson adalah semacam komputer mini yang memancarkan sinyal. Melalui perangkat itu, Gasson bisa mengakses sistem keamanan untuk masuk ke ruangan-ruangan laboratorium atau mengaktifkan ponselnya. Fungsinya tak beda dengan kartu akses pada umumnya.
Saat Gasson masuk ke laboratorium, komputer yang mengatur akses ke ruangan tersebut akan membaca perangkat implannya. Itulah pintu masuk buat virus yang telah ditanamkan untuk menginfeksi komputer laboratorium. Saat koleganya juga masuk ke laboratorium, virus tersebut pun menular ke perangkat RFID orang tersebut. Percobaan ini memperlihatkan bagaimana virus komputer dapat menular secara nirkabel antarmanusia saat ada sarana komunikasi di antara keduanya. Suatu ketika, orang yang jahat bisa saja membuat virus untuk menembus sistem keamanan daerah terlarang seperti server database universitas atau perusahaan melalui pola tersebut.
Dalam percobaan ini, pengguna implan RFID mungkin tak akan terganggu kesehatannya saat virus komputer menginfeksi perangkat di tubuhnya itu. Namun, bagaimana kalau virus tersebut menyerang implan di alat vital, misalnya alat bantu pendengaran atau jantung buatan?
yang jelas komputer adalah sarana atau alat yang diserang oleh virus komputer sementara dampaknya akan terasa dalam tubuh apabila kita menggunakan alat bantu yang berhubungan dengan komputer.
sumber








